Tragedi di Segitiga Bermuda Karena Medan Magnet - Misteri Terungkap dan Kasus Ditutup


Diantara teori-teori yang menjelaskan misteri di Segitiga Bermuda ada satu teori yang paling masuk akal. Mengapa sekarang sangat jarang bahkan bisa dibilang tidak ada kecelakaan di Segitiga Bermuda? Dan jika kita perhatikan ternyata kecelakaan di wilayah angker itu terjadi pada puluhan tahun yang lalu.
           
TONTON VIDEONYA



Di episode yang lalu kita telah membahas Teori Monster Laut Sargasso dan Pusaran Air. Nah, di episode kali ini kita akan membahas Teori Medan Magnet. Lalu bagaimana teori ini menjelaskan sejumlah tragedi yang terjadi di Segitiga Bermuda?

MEDAN MAGNET
           
Sahabat inidia yang budiman, sebelum memahas lebih jauh mari kita mengenal apa itu medan magnet?

Menurut wikipedia, medan magnetik bumi, disebut juga medan geomagnetik, adalah medan magnetik yang menjangkau dari bagian dalam bumi hingga ke batas, di mana medan magnet bertemu dengan angin matahari. Besarnya medan magnet bumi bervariasi antara 25 hingga 65 mikrotesla. Kutub-kutub medan magnetik bumi diperkirakan miring sepuluh derajat terhadap aksis bumi, dan terus bergerak sepanjang waktu akibat pergerakan besi paduan cair di dalam inti luar bumi. Kutub magnet bumi bergerak begitu lambat sehingga kompas masih dapat berfungsi dengan baik sejak digunakan pertama kali, yaitu abad ke 11 masehi. Namun, di beberapa tempat seperti di Segitiga Bermuda medan magnet ini menyebabkan tidak berfungsinya kompas seperti yang dituturkan oleh para saksi.

PENJELASAN TEORI
            
Sahabat inidia yang budiman. Sebuah program TV, Discovery & National Geographic tahun 2011 menyelidiki bahwa terjadinya gangguan mesin, kompas & alat navigasi di Segitiga Bermuda karena adanya daya magnet lokal (bukan magnet kutub) yang dihasilkan dari bawah kulit bumi pada daerah tersebut. Bukti baru ini telah diselidiki oleh para ahli dengan sejumlah bukti. Lalu para ahli itu beserta para pilot yang berpengalaman menyusuri daerah sekitarnya dan terbukti bahwa alat-alat navigasi dalam kokpit berubah dan terganggu.

Karena  teknologi di masa kini semakin canggih, maka dapat dipantau pula melalui alat dengan infra merah, ultra violet, dan lainnya yang memantau daerah Segitiga Bermuda. Alat itu membuktikan bahwa di dalam kerak bumi pada daerah Segitiga Bermuda terdapat pusaran-pusaran lava panas yang menghasilkan gelombang-gelombang elektromagnetik sampai menembus ke luar permukaan bumi. Pusaran-pusaran panas yang berupa lava cair di dalam kerak bumi berputar seperti layaknya hurricane atau typhoon yang diameternya sangat besar dan terjadi di bawah kerak bumi. Jadi, jika bumi diibaratkan balon yang diisi air, karet balon adalah kerak bumi sedangkan air dalam balon adalah magma atau lava cair yang berada di dalam inti bumi. Cairan lava dibawah mantel Bumi tersebut memiliki tekanan dan panas yang berbeda-beda. Cairan tersebut juga memiliki “arus” dan dapat berputar-putar seperti air yang direbus. Gerakan lava yang berputar-putar itulah yang menimbulkan medan magnetik.

Medan magnet yang dihasilkan dapat menimbulkan gelombang elektromagnetik dan dapat memengaruhi alam sekitarnya hingga ke atas permukaan bumi dan membuat alat navigasi menjadi berantakan dan tak berfungsi sempurna. Akibat peralatan navigasi yang terpengaruhi oleh medan magnet inilah yang akhirnya membuat peralatan navigasi terganggu dan membuat tujuan atau rute yang direncanakan menjadi berantakan. Hal ini seperti yang terjadi pada kompas kapal Columbus saat melintasi Segitiga Bermuda, dan laporan pilot pesawat skuadron-19 sebelum menghilang yang menyatakan bahwa kompas tidak berfungsi dan menjadi kacau saat berada di lautan misterius itu.

Namun yang jelas dalam beberapa dekade terakhir di wilayah Segitiga Bermuda, kecelakaan sangat jarang terjadi-bahkan bisa dibilang tidak ada. Jika tragedi kecelakaan di masa lalu terjadi karena adanya monster laut, gas metana,  atau makhluk gaib, pasti kecelakaan akan terus terjadi hingga saat ini. Mengapa dalam beberapa dekade ini tidak ada lagi kecelakaan di Segitiga Bermuda? Jawabannya adalah karena pada masa kini pesawat dan kapal laut tidak lagi hanya menggunakan kompas sebagai penunjuk arah, tapi sudah menggunakan sistem navigasi GPS (Global Positioning System). Karena telah dipandu oleh GPS maka arah mata angin utara, selatan, timur dan barat akan lebih akurat dan tidak akan terpengaruh oleh luapan medan magnet bumi di Segitiga Bermuda.

Tapi, bagaimana dengan bangkai-bangkai kapal dan pesawat yang tak ditemukan? Sebenarnya bangkai-bangkai kendaraan itu semuanya terkubur di dasar Segitiga Bermuda. Jika sahabat berkesempatan untuk menyelami dasar laut Segitiga Bermuda maka Anda akan menemukan bangkai kapal dan pesawat yang sudah menjadi rumah ikan dan terumbu karang. Para ahli menyatakan bahwa walau tak semua bangkai kendaraan ditemukan, namun nyaris semua posisi kapal-kapal karam itu telah diketahui keberadaannya, baik secara pencarian ataupun secara tak sengaja terdeteksi oleh sonar kapal yang sedang lewat. Untuk sebuah pencarian, kawasan segitiga bermuda sangatlah luas, bahkan tiga kali lebih luas daripada wilayah keseluruhan Indonesia. Dan sudah diketahui bahwa lautan Segitiga Bermuda memiliki kedalaman yang sangat dalam dengan palung-palung laut raksasanya. Jadi, tidak ada untungnya apabila mengevakuasi bangkai-bangkai kapal atau pesawat di dasar Segitiga Bermuda karena membutuhkan biaya yang sangat besar.

Disebutkan bahwa kecelakaan di Segitiga Bermuda terjadi pada saat cuaca cerah. Namun, hal ini mungkin tidak berlaku di wilayah lain di segitiga bermuda yang sangat luas itu. Mungkin di sisi pinggiran sedang cerah tapi tak ada yang tahu cuaca buruk dengan gelombang besar sedang terjadi di sisi tengah Segitiga Bermuda. Seperti peristiwa penerbangan-19 yang melegenda itu. Disebutkan bahwa pada saat tragedi itu terjadi, cuaca sedang sangat cerah. Ketika melintasi daerah Segitiga Bermuda pesawat skuadron penerbangan 19 dilaporkan mengalami gangguan pada kompas yang diakibatkan elektromagnetik yang sudah dijelaskan tadi. Ketika kompas sedang kacau, maka pilot pun tersesat karena tak tahu arah dan malah menuju sisi lain Segitiga Bermuda yang sedang mengalami cuaca buruk sehingga pesawat-pesawat tersebut terjebak di sebuah awan kumulunimbus yang diketahui hingga hari ini sebagai salah satu penyebab kecelakaan pesawat. Hal yang serupa pun terjadi pada kapal laut. Seperti yang diketahui bahwa cuaca buruk juga mengakibatkan gelombang laut yang sangat besar, siap menelan kapal-kapal yang tersesat di Segitiga Bermuda.


 KESIMPULAN

Sahabat inidia yang budiman. Jadi kesimpulan dari serangkaian peristiwa yang terjadi di Segitiga Bermuda adalah disebabkan karena kesalahan navigasi akibat kacaunya kompas kapal atau pesawat sehingga menyesatkan mereka menuju sisi lain Segitiga Bermuda yang tengah mengalami cuaca buruk. Namun kini kita tidak mendengar kecelakaan di Segitiga Bermuda lagi karena alat navigasi tidak lagi hanya menggunakan kompas tetapi juga GPS dan juga menggunakan prediksi cuaca yg akurat. Jadi sudah jelas terungkap misteri Segitiga Bermuda.
            
Dengan demikian tuntas sudah pembahasan kita tentang Segitiga Bermuda ini. Terima kasih buat sahabat yang sudah mengikuti Misteri Segitiga Bermuda dari episode awal hingg episode ini. 

SUMBER:



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri Ukuran Tubuh Manusia Mulai dari Nabi Adam Hingga Sekarang, Mengapa Menyusut?

Misteri Segitiga Bermuda: Terungkap Menurut Al-Quran Dan Al-Hadis (Segitiga Bermuda #1)

Ada Monster Laut di Segitiga Bermuda yang Menyebabkan Terjadinya Tragedi Maut ? #9